
Makassar — Menyaksikan tim nasional Spanyol saat ini memicu semacam dejavu kolektif bagi siapa saja yang menggilai sepak bola pada era emas 2008–2012. Namun, ada perbedaan mendasar yang sangat krusial. Spanyol era Luis de la Fuente bukan lagi tim yang sekadar memutar-mutar bola tanpa ujung demi “keindahan estetika” semata.
Kemenangan mutlak 2-0 atas Prancis di semifinal Piala Dunia 2026 di AT&T Stadium, Texas, menjadi bukti sahih: La Roja telah berevolusi menjadi predator taktis yang sangat pragmatis, dinamis, dan mematikan.
1. Menjinakkan Prancis: Masterclass Taktik De la Fuente
Sebelum laga semifinal bergulir, Prancis di bawah asuhan Didier Deschamps diunggulkan berkat lini serang mereka yang telah menggelontorkan 16 gol sepanjang turnamen. Namun, di lapangan Arlington, taktik de la Fuente mereduksi ancaman Les Bleus hingga nyaris tak bersisa.
Dominasi Tengah: Menang Jumlah 3-vs-2
Kylian Mbappé mengakui seusai laga bahwa Prancis kalah jumlah di lini tengah. Penempatan Rodri sebagai jangkar tunggal yang luar biasa tenang, ditopang oleh agresivitas Fabián Ruiz dan kecerdasan posisi Dani Olmo, sukses mematikan pasokan bola ke lini serang Prancis. Ousmane Dembélé dan Michael Olise terisolasi sepenuhnya di sayap, memaksa Prancis bermain tanpa satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-80.
Transisi Vertikal yang Mematikan
Spanyol tidak lagi terjebak dalam perangkap possession lambat. Begitu menguasai bola, mereka langsung mengeksploitasi ruang. Penalti klinis dari Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 dan penetrasi mengejutkan dari bek kanan Pedro Porro pada menit ke-58 membuktikan fleksibilitas serangan balik cepat mereka yang tak terduga.
“Kami memulai proyek ini hampir empat tahun lalu dengan sebuah ide dasar, dan kami tetap setia pada ide tersebut. Keberhasilan ini adalah buah dari proses yang direncanakan dengan sangat matang.”
— Luis de la Fuente, Pelatih Timnas Spanyol.
2. Raport Perjalanan Spanyol Menuju Final
Sempat diragukan setelah bermain imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde di laga pembuka grup, Spanyol perlahan tapi pasti mencapai performa puncak mereka tepat pada waktunya.
3. Menyamai Rekor Dunia dan Bayang-Bayang Sejarah 2010
Kemenangan atas Prancis ini membawa Spanyol mencatatkan 37 pertandingan beruntun tanpa kekalahan di semua kompetisi. Angka magis ini menyamai rekor dunia sepanjang masa yang sebelumnya dipegang oleh tim nasional Italia.
De la Fuente secara terbuka menyebut bahwa harmoni, kerendahan hati, dan pengorbanan kolektif di ruang ganti saat ini sangat mirip dengan atmosfer skuad legendaris Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Tidak ada ego individu; pemain bintang seperti Lamine Yamal dan Nico Williams bekerja sama kerasnya dalam bertahan layaknya Marc Cucurella di lini belakang.
4. Menanti Klimaks di New Jersey
Kini, satu langkah terakhir tersisa. Spanyol akan terbang ke East Rutherford untuk melakoni partai final di Stadion MetLife, New Jersey pada Minggu, 19 Juli 2026 (Senin pagi WIB).
Mereka tinggal menunggu pemenang dari duel semifinal klasik lainnya antara Inggris vs Argentina yang akan berlangsung malam ini di Atlanta.
Menghadapi kolektivitas taktis Inggris ataupun magis Lionel Messi bersama Argentina, Spanyol bentukan De la Fuente ini telah membuktikan satu hal: mereka memiliki semua instrumen—baik keindahan taktis maupun kekejaman pragmatis—untuk kembali menguasai takhta sepak bola dunia. (*)






