
MAKASSAR — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus mengakselerasi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir guna mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Mengingat pasar tradisional menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar, pemilahan sampah dari sumber kini dijadikan sebagai prioritas utama.
Langkah strategis ini dibahas langsung saat Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Perumda Pasar Makassar pada Senin (10/8/2026) pagi. Pertemuan ini difokuskan pada evaluasi serta percepatan penanganan sampah organik di belasan unit pasar.
“Lebih dari 50 persen sampah pasar itu organik. Jadi kuncinya adalah pemilahan dari sumber. Idealnya kita punya sentra-sentra pengolahan sampah organik yang besar,” ujar Melinda di hadapan jajaran pengelola pasar.
Produksi Sampah Pasar Capai 11,3 Ton Organik Per Hari
Berdasarkan penimbangan rutin yang dilakukan Perumda Pasar Makassar di 14 unit pasar, data menunjukkan volume sampah harian yang terbilang tinggi. Data akurat ini nantinya diintegrasikan melalui portal Lontara untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi berkala.
- Sampah Organik: 11.322 kg (sekitar 11,3 ton) per hari.
- Sampah Residu: Sekitar 10 ton per hari.
Direktur Utama Perumda Pasar Makassar, Ali Gauli Arief, mengungkapkan bahwa tingginya angka sampah organik seperti sisa sayur dan buah memerlukan penguatan sarana. Pihaknya kini membutuhkan penambahan armada khusus serta peningkatan fasilitas pengolahan seperti komposter dan TeBa agar pemrosesan bisa selesai di tingkat kawasan.
Pemberdayaan Pedagang dan Potensi Ekonomi Sampah
Selain kesiapan fasilitas, Pemkot Makassar menekankan pentingnya perubahan perilaku. Perumda Pasar diminta aktif mengedukasi seluruh tenant atau pedagang agar disiplin memilah sampah sejak dari lapak masing-masing, termasuk menyiapkan sanksi bagi yang melanggar.
Penggiat Lingkungan Kota Makassar, Mashud Azikin, menambahkan bahwa sampah organik pasar memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan benar. Sampah sisa bahan pangan dapat diolah menjadi:
- Kompos pupuk tanaman.
- Cairan eco-enzyme.
- Pestisida nabati.
Melalui kolaborasi antara Perumda Pasar, Dinas Lingkungan Hidup, dan komunitas pedagang, Pemkot Makassar optimistis sistem ini dapat berjalan berkelanjutan: sampah dipilah dari sumber, diolah sedekat mungkin dengan pasar, dan hanya sampah residu yang dibuang ke TPA. (*)



