
MAKASSAR — Pengelolaan sampah di pemukiman padat sering kali identik dengan kesan kumuh dan aroma tak sedap. Namun, citra tersebut berhasil ditepis oleh warga ORW 04 Kelurahan Karunrung, Kecamatan Rappocini. Berkolaborasi dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN), para pemuda dan pengurus RT/RW setempat menyulap sampah pemukiman menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Program berbasis komunitas yang berjalan sejak Mei 2026 ini menghadirkan pusat pengolahan sampah mandiri tepat di tengah pemukiman warga. Model ini membuktikan bahwa sampah yang dikelola secara cermat tidak hanya hilang dari lingkungan, melainkan dapat kembali memberikan manfaat finansial.
Dua Jalur Pengolahan: Anorganik Ditabung, Organik Diolah
Sistem pengolahan sampah di RW 04 Karunrung dibagi menjadi dua skema utama yang melibatkan partisipasi aktif warga:
- Jalur Anorganik (Bank Sampah): Warga mengumpulkan sampah plastik, logam, kertas, hingga kaca di rumah masing-masing. Penimbangan rutin digelar dua kali sebulan (minggu ke-2 dan ke-4). Hasilnya dicatat dalam buku tabungan bank sampah yang kini telah menggaet sekitar 60 nasabah. Menariknya, saldo tabungan sampah ini bisa digunakan warga untuk membayar retribusi sampah bulanan.
- Jalur Organik (Zero Waste): Sampah dapur dan makanan diolah menggunakan berbagai metode, seperti enam unit teba, budidaya maggot (BSF), biodigester penghasil biogas, eco-enzyme, hingga pupuk organik. YPN juga menyiagakan mesin pencacah sampah organik untuk mempercepat proses pengomposan.
Ke depan, YPN bersama pemuda lokal tengah menyiapkan inovasi “program emberisasi”—penyediaan ember khusus sampah organik di tiap rumah yang dijemput harian oleh tim bank sampah muda.
“Harapan kami, sampah organik tidak lagi dibuang ke luar lingkungan… sehingga yang benar-benar dikirim ke TPA hanya sampah residu,” jelas Manajer Program YPN, Syamsuddin. (*)



