
MAKASSAR — Saat Pemerintah Kota Makassar resmi mewajibkan kebijakan pemilahan sampah dari hulu per 1 Agustus 2026, Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, melangkah jauh lebih siap.
Di bawah kepemimpinan Lurah Fajar Harianto, budaya memilah dan mengolah sampah sudah terbangun kuat sejak empat tahun terakhir.
Bahkan, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Karebosi yang dikelola kelurahan ini kini menjadi laboratorium rujukan berbagai instansi, sekolah, hingga daerah lain yang ingin mengadopsi sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Kisah sukses tersebut dibagikan Fajar saat menjadi narasumber dalam forum Coffee Morning yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar di Kafe Nordu, Jalan Emmy Saelan, Rabu (5/8/2026).
“Yang paling sulit itu mengubah kebiasaan. Orang harus memahami bahwa sampah bukan hanya dibuang, tetapi harus dikelola bersama sejak dari rumah,” tegas Fajar.
Bangun TPS 3R: Inspirasi Kapal Pesiar hingga Kerja Sama Korea
Pemahaman mendalam Fajar mengenai disiplin pemilahan sampah rupanya berawal dari pengalaman pribadinya sewaktu bekerja di kapal pesiar sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia menyaksikan langsung bagaimana setiap jenis limbah dipisahkan secara ketat sebelum kapal berlabuh.
Pengalaman tersebut makin terasah ketika ia bertugas di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar pada 2019. Kala itu, ia terlibat aktif dalam inisiasi kerja sama Pemkot Makassar dengan ENTOMO Korea melalui hibah Korea International Cooperation Agency (KOICA) untuk pengembangan budidaya maggot berbasis larva Black Soldier Fly (BSF).
Bekal teknis inilah yang ia terapkan sewaktu dilantik sebagai Lurah Baru pada 2021. Ia merangkul pengelola hotel, restoran, rumah sakit, hingga sekolah-sekolah di wilayahnya untuk mulai memilah sampah.
Titik balik pengelolaan sampah di wilayahnya makin menguat pada 2023 seiring beroperasinya TPS 3R Karebosi sebagai pusat pengolahan sampah organik menjadi pakan maggot.
“Kapasitas pengolahan sampah organik kami yang awalnya hanya 150–200 kilogram per hari, kini melonjak drastis mencapai 600 kilogram setiap hari,” jelasnya.
Inovasi Budidaya Maggot dan Layanan Jemput Khusus
Tak sekadar mengolah limbah, TPS 3R Karebosi kini mampu memproduksi maggot sebanyak 30 hingga 50 kilogram per hari dengan nilai jual Rp10.000–Rp15.000 per kilogram. Fajar juga menggagas program penukaran pupa maggot gratis untuk dibudidayakan warga serta merancang desain rumah maggot portabel berukuran 1×2 meter yang telah masuk e-Katalog.
Untuk menjamin kelancaran sistem, Kelurahan Baru menerapkan armada penjemputan khusus sampah organik setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat agar sampah terpilah tidak kembali tercampur.
Meskipun mulai menghasilkan nilai ekonomi, Fajar menegaskan fokus utamanya tetap pada kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
“Saya selalu tekankan kepada warga, tidak wajib membuat kompos atau memelihara maggot. Yang utama adalah disiplin memilah dari rumah. Jika itu dilakukan bersama, beban pemerintah akan jauh lebih ringan dan lingkungan kita bersih,” pungkasnya. (*)



