
MAKASSAR — Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Islamic Center Masjid Al Markaz Al Islami Makassar menggelar Dialog Kebangsaan di Aula Masjid Al Markaz Al Islami pada Sabtu (15/8/2026). Forum ini diselenggarakan guna memperkuat komitmen persatuan, kemajemukan, dan moderasi beragama di tengah masyarakat.
Kegiatan bernuansa kebangsaan ini menghadirkan jajaran narasumber dari pelbagai elemen strategis, di antaranya:
- Kombes Pol Anang Triarsono, S.IK., M.Si. (Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Sulsel)
- Dr. H. M. Ishaq Iskandar (Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Selatan)
- Andi Sri Wulandani Thamrin, S.IP., M.Hum. (Sekretaris Umum FORHATI Sulsel dan Sekretaris Badan Zakat, Infaq, dan Sedekah Al Markaz Al Islami)
Diskusi hangat tersebut dipandu langsung oleh Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Makassar (UIM), Prof. K.H. Muammar Bakry.
Masjid Sebagai Ruang Muamalah dan Publik
Ketua Harian Yayasan Islamic Center Masjid Al Markaz Al Islami, Prof. Mustari Mustafa, menjelaskan bahwa Dialog Kebangsaan ini merupakan agenda tahunan yang kini telah memasuki tahun kedua pelaksanaan.
Menurut Prof. Mustari, momentum peringatan kemerdekaan Indonesia harus dijadikan pijakan utama untuk memperluas pesan perdamaian, persatuan, dan rasa cinta tanah air.
“Pesan kemerdekaan yang paling mendasar adalah persatuan dan rasa cinta terhadap bangsa. Masjid Al Markaz tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah ritual semata, melainkan juga ruang muamalah dan ruang publik tempat masyarakat berdialog mengenai persoalan sosial dan kebangsaan,” ujar Prof. Mustari.
Penguatan Moderasi Beragama dan Kesadaran Hukum
Dalam pemaparannya, Dirbinmas Polda Sulsel Kombes Pol Anang Triarsono menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai kesepakatan bersama (kalimatun sawa’) dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Anang menguraikan bahwa moderasi beragama merupakan kunci utama dalam mengelola perbedaan masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Prinsip moderasi mengharuskan setiap individu untuk tidak bersikap eksklusif atau merasa kelompoknya paling benar. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap hukum untuk menjaga ketertiban sosial.
“Dari perbedaan perlu ada sarana dialog. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi prinsip berbangsa kita tetap satu. Kesadaran terhadap Indonesia sebagai negara hukum adalah benteng untuk mencegah potensi konflik,” tegas Anang.
Menurutnya, keberagaman pendapat yang muncul dalam Dialog Kebangsaan menjadi gambaran kecil mengenai kemajemukan masyarakat Indonesia.
“Dari perbedaan perlu sarana bagaimana boleh berbeda, tapi prinsip tetap satu,” ujar Anang.
Ia mengatakan, keberagaman masyarakat Indonesia membutuhkan sikap saling menghargai. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui moderasi beragama.
Moderasi beragama, menurut Anang, merupakan sikap untuk tidak eksklusif dan tidak merasa menjadi kelompok yang paling benar, sekaligus menyadari bahwa Indonesia memiliki keberagaman agama, budaya dan latar belakang masyarakat.
“Kita menyadari bahwa kita ini hidup di Indonesia dengan segala keberagaman dari Sabang sampai Merauke,” katanya.
Peran Strategis Perempuan dan Gagasan Forum Lintas Iman
Sementara itu, Andi Sri Wulandani Thamrin menyoroti peran sentral perempuan dalam memperkuat moderasi beragama dari lingkup keluarga. Mengusung tema “Perempuan sebagai Penggerak Moderasi Beragama”, ia menilai ibu adalah madrasah pertama dalam membina karakter anak agar memiliki toleransi tinggi.
Andi Sri juga menyinggung tantangan era digital, di mana penyebaran paham radikal dan intoleransi kerap menargetkan kelompok anak dan perempuan melalui media sosial.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia melontarkan tiga gagasan strategis:
- Gelar Dialog Lintas Iman Perempuan: Membangun ruang komunikasi khusus bagi perempuan dari berbagai komunitas keagamaan untuk menjadi agen perdamaian.
- Rumah Ibadah Ramah Perempuan dan Anak: Meningkatkan perlindungan sosial serta edukasi pencegahan kekerasan di lingkungan rumah ibadah.
- Literasi Digital dan Cek Fakta: Memberikan pelatihan kognitif bagi perempuan guna menyaring informasi hoaks dan provokatif di dunia maya.
“Forum tersebut penting untuk membangun ruang komunikasi yang terbuka sekaligus memperkuat jejaring perempuan sebagai agen perdamaian,” ujarnya.
Selain dialog lintas iman, ia mendorong agar rumah ibadah semakin ramah terhadap perempuan dan anak. Upaya tersebut mencakup peningkatan kesadaran terhadap pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan rumah ibadah.
“Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Mereka memiliki peran penting dalam mendidik generasi untuk menghargai perbedaan dan menangkal ekstremisme sejak dini,” ujarnya.
Gagasan ini disambut hangat oleh pihak pengelola yayasan. Prof. Mustari memastikan aspirasi pembentukan forum dialog lintas iman khusus perempuan ini akan menjadi beban moral organisasi untuk segera direalisasikan dalam waktu dekat tanpa harus menunggu agenda tahunan berikutnya. (*)



