
JAKARTA — Ketahanan ekonomi nasional saat ini tengah diuji oleh tekanan ganda, baik dari gejolak geopolitik dan fragmentasi perdagangan global maupun persoalan struktural di dalam negeri.
Menanggapi situasi tersebut, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menggelar Konferensi Pers Pre-Rakerkonas XXXV di Jakarta untuk merumuskan agenda penguatan ekonomi nasional.
Kondisi dunia usaha saat ini diwarnai sejumlah indikator mengkhawatirkan. Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia anjlok ke level 46,9 pada Juni 2026—posisi terendah dalam setahun terakhir.
Selain itu, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.200 per dolar AS dan bertahan di atas Rp18.000 pada Juli 2026. Di sisi lain, biaya logistik nasional masih membengkak hingga 14,29% dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di atas rata-rata negara tetangga.
“Ketika seluruh tekanan ini datang bersamaan, perusahaan kehilangan ruang untuk menghadapi kenaikan biaya,” tegas Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani.
Gelombang PHK Global dan Urgensi Kepastian Kebijakan
Shinta menggarisbawahi bahwa fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan efek dari perlambatan ekonomi global, disrupsi teknologi, serta restrukturisasi rantai pasok dunia.
“Yang membedakan setiap negara adalah seberapa cepat kebijakan mampu menjadi bantalan bagi dunia usaha agar tekanan tersebut tidak berkembang menjadi gelombang PHK yang lebih besar,” jelas Shinta.
Sebagai solusi, APINDO mendorong percepatan perjanjian dagang internasional seperti IEU-CEPA, ICA-CEPA, dan I-EAEU FTA guna memperluas pasar ekspor serta meningkatkan daya saing nasional.
Dukungan serupa juga ditekankan pada penguatan UMKM. Ketua Bidang UMKM APINDO, Ronald Walla, menyebut UMKM berkontribusi lebih dari 60% PDB, menyerap 97% tenaga kerja, dan menyumbang lebih dari 60% total investasi nasional.
Makassar Jadi Tuan Rumah Rakerkonas ke-35 APINDO
Guna menyatukan aspirasi dunia usaha dari 36 provinsi dan 368 kabupaten/kota, APINDO memilih Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai tuan rumah Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) ke-35 pada 3–5 Agustus 2026. Hasil rekomendasi forum ini nantinya diserahkan langsung kepada Presiden RI sebagai masukan strategis kebijakan ekonomi.
Ketua DPP APINDO Sulawesi Selatan, Suhardi, menegaskan kesiapan Makassar menyambut sekitar 1.000 peserta dan tamu undangan. Pemilihan Makassar menjadi momentum strategis mempertemukan potensi kawasan timur Indonesia—seperti sektor pangan, perikanan, energi, dan maritim—secara langsung dengan para investor.
Dihadiri Para Menteri, Duta Besar, hingga Tokoh Nasional
Rangkaian Rakerkonas ke-35 APINDO di Makassar bakal menghadirkan deretan tokoh penting dan pembuat kebijakan:
- 3 Agustus: Business Investment Forum and Expo yang mempertemukan para kepala daerah dan Duta Besar negara sahabat.
- 4 Agustus: Pembukaan Rakerkonas yang dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menaker Yassierli, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, dan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas. Forum ini juga menghadirkan Wapres RI ke-10 & 12 M. Jusuf Kalla, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, serta Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.
- 5 Agustus: Kunjungan lapangan ke sentra-sentra UMKM lokal.
Melalui Rakerkonas XXXV ini, APINDO berharap dapat membangun kepastian kebijakan dan kolaborasi nyata antara pemerintah, dunia usaha, serta pekerja demi menjaga stabilitas ekonomi nasional. (*)





