Wali Kota MAkassar, Munafri Arifuddin meninjau langsung penyaluran air bersih, Selasa (2/9/2026)
MAKASSAR – Musim kemarau panjang yang melanda Kota Makassar dalam beberapa pekan terakhir membawa dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari warga. Keluhan tentang sulitnya mendapatkan air bersih mengalir deras dari berbagai kecamatan, terutama di kawasan padat penduduk yang selama ini sangat bergantung pada pasokan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Makassar bergerak cepat. Distribusi air bersih Makassar pun ditingkatkan secara signifikan, bahkan menjangkau hingga 50 titik permukiman yang tersebar di seluruh wilayah kota.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi, tidak sekadar memantau dari balik meja. Rabu (2/9/2026) pagi, ia turun langsung menyusuri lorong-lorong sempit permukiman di Kecamatan Tallo dan Tamalanrea. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa distribusi air bersih Makassar benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan, bukan hanya sekadar angka di atas kertas.
Respons Cepat atas Aduan Warga
Kehadiran Appi di tengah antrean warga yang membawa jeriken, galon, dan berbagai wadah air menjadi momen yang tak terlupakan. Ia berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, menyapa warga satu per satu, mendengarkan langsung keluhan mereka tentang kesulitan memperoleh air untuk keperluan mandi, mencuci, dan memasak.
“Hari ini kami turun langsung di beberapa titik di Kecamatan Tallo dan Tamalanrea melihat SPAM dan distribusi air kepada warga yang membutuhkan. Kami turun langsung pastikan bantuan tersalur,” ujar Appi di sela-sela peninjauannya.
Suasana haru menyelimuti lokasi ketika warga menyadari bahwa orang nomor satu di kota mereka hadir di tengah kesulitan mereka. Bukan sekadar foto opresif, Appi terlihat serius mencatat sejumlah catatan penting sambil memastikan bahwa distribusi air bersih Makassar berjalan dengan tertib dan merata.
50 Titik Distribusi dan Lonjakan Permintaan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mencatat peningkatan permintaan air bersih yang signifikan selama musim kemarau tahun ini. Jika pada pekan sebelumnya distribusi masih berkisar di angka 30 hingga 35 titik, kini jumlah tersebut melonjak hingga menyentuh angka 50 titik. Ribuan kepala keluarga (KK) terdampak dan membutuhkan pasokan air bersih setiap harinya.
“Kebutuhan air terus difasilitasi BPBD. Setiap hari ada peningkatan jumlah permintaan. Hari ini sudah menuju ke angka 50-an titik yang membutuhkan air bersih,” jelas Appi.
Lonjakan ini tidak terlepas dari penurunan tekanan air PDAM yang terjadi hampir di seluruh wilayah Makassar. Kondisi ini diperparah dengan cuaca ekstrem yang membuat sumber-sumber air permukaan semakin menyusut. Oleh karena itu, distribusi air bersih Makassar tidak hanya mengandalkan mobil tangki, tetapi juga melibatkan berbagai instansi seperti Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) serta Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar.
Selain meninjau distribusi air darurat, Appi juga menyisihkan waktunya untuk mengecek fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang tersebar di beberapa kelurahan. Ia mengunjungi SPAM di Jalan Dg Tantu, Rappokalling; SPAM Buloa di Jalan Sultan Abdullah Raya; serta SPAM Pannampu di Jalan Bersih dan Jalan Indah. Tak ketinggalan, ia juga meninjau SPAM di Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea.
“Saya ingin memastikan penanganan tidak berhenti pada pendistribusian air secara darurat, tetapi juga menyentuh ketersediaan infrastruktur air melalui optimalisasi SPAM,” tegasnya.
Appi menjelaskan bahwa distribusi air bersih Makassar ke depan akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur ini. Pemerintah kota menargetkan pembangunan 18 SPAM baru sepanjang tahun 2026. Beberapa di antaranya sudah memasuki tahap pengeboran dan kontrak pengerjaan ditargetkan selesai dalam tiga bulan. Ia optimistis dalam dua bulan ke depan sejumlah SPAM baru sudah dapat beroperasi dan meringankan beban warga.
Tak hanya mengandalkan SPAM dan mobil tangki, Pemkot Makassar juga menggandeng tokoh masyarakat untuk membangun sumur bor konvensional di sejumlah kawasan rawan kekeringan. Langkah ini dianggap lebih cepat dan dapat menjangkau lokasi-lokasi yang sulit dilewati mobil tangki.
“Kita akan melakukan intervensi melalui tokoh-tokoh masyarakat dengan membangun sumur bor yang lebih cepat, sumur bor konvensional, untuk segera memberikan pola penyaluran air dan tempat-tempat penampungan seperti tandon,” ungkap Appi.
Salah satu contoh keberhasilan adalah sumur bor di kawasan RB 03 yang hanya menggunakan satu pipa dengan kedalaman sekitar empat meter, namun mampu mendistribusikan air ke puluhan rumah warga. Keberhasilan ini akan direplikasi di titik-titik lain.
Appi juga mengakui bahwa tidak semua pengeboran berhasil. Ada sejumlah lokasi yang menghasilkan air berwarna hitam atau berbau, sehingga membutuhkan kajian lebih lanjut. Namun, ia menekankan bahwa distribusi air bersih Makassar tidak boleh berhenti di tengah jalan, dan pemerintah akan terus mencari solusi terbaik.
Untuk mempercepat seluruh program intervensi, Pemerintah Kota Makassar telah mengaktifkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Status tanggap darurat kekeringan pun telah diberlakukan mengingat musim kemarau tahun ini tercatat lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Sudah, BTT-nya ini sudah jalan karena kita sudah masuk ke dalam wilayah tanggap darurat karena musim kering ini sangat panjang,” tegas Appi.
Dengan berbagai langkah tersebut, Appi berharap distribusi air bersih Makassar tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan air kota dalam jangka panjang. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan memanfaatkan infrastruktur yang ada dengan bijak.
“Yang paling penting adalah tempat penampungannya seperti tandon-tandon penampungan itu harus diatur dengan baik supaya kebutuhan masyarakat tidak terfokus pada satu tempat, tapi sudah bisa terdistribusi,” pungkasnya.
Ke depan, Pemkot Makassar berkomitmen untuk terus menambah titik distribusi, memperbaiki kualitas SPAM, dan memastikan setiap warga mendapatkan akses air bersih yang layak, terutama di musim kemarau yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim. (*)





