
MAKASSAR,–-Kerukunan Keluarga Indonesia Buton (KKIB) Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) resmi memulai babak baru kepengurusan. Dalam Musyawarah Besar (Mubes) yang berlangsung khidmat di Hotel Grand Imawan, Panakkukang, Makassar, organisasi diaspora terbesar asal Buton Raya ini secara aklamasi menetapkan Prof. Sumbangan Baja sebagai Ketua Umum untuk periode 2026–2031.
Keputusan ini bukanlah kejutan. Tokoh akademisi dan budayawan tersebut dinilai sukses menjaga soliditas organisasi selama periode pertama. Pengukuhan dilakukan melalui forum adat Siolimbona KKIB, yang merupakan representasi sah dari tujuh kabupaten/kota di Buton Raya, mulai dari Kabupaten Buton, Kota Baubau, Buton Utara, Buton Tengah, Buton Selatan, Bombana, hingga Wakatobi.
Laporan Pertanggungjawaban: Dari Dialog Kepahlawanan Hingga Santunan Jenazah
Sebelum aklamasi, suasana Mubes terasa emosional saat Prof. Sumbangan menyampaikan laporan pertanggungjawabannya. Di hadapan puluhan perwakilan dan tokoh masyarakat, ia memaparkan sederet program nyata yang jarang dilakukan organisasi sejenis.
“Kami telah melaksanakan Dialog Kepahlawanan Oputa Yi Koo, serangkaian webinar, serta seminar nasional bertema Kebudayaan Buton. Bahkan saat pandemi Covid-19 melanda, kegiatan Halalbihalal kami tetap berjalan via virtual, dan kini kembali ke format tatap muka,” ujar Prof. Sumbangan dalam orasinya, Minggu (8/6).
Yang paling menyentuh adalah konsistensi KKIB dalam ranah sosial kemanusiaan. Organisasi ini rutin menggelar buka puasa bersama, santunan bagi warga Baubau yang sakit atau terlantar di Makassar, hingga bantuan pemulangan jenazah. “Kami juga serius mengelola Pekuburan Keluarga Buton. Dukungan pemasangan paving blok dan perawatan rutin terus kami lakukan demi menghormati para leluhur,” tambahnya.
Tiga Pilar Kepemimpinan 2026-2031
Usai terpilih, Prof. Sumbangan Baja langsung menyusun strategi. Dalam wawancara eksklusif bersama tim jurnalis, ia menegaskan bahwa periode kedua ini akan lebih agresif dalam tiga prioritas utama:
- Penguatan Kohesi Sosial: Menggiatkan kembali kegiatan keagamaan dan budaya untuk merekatkan silaturahmi antar generasi.
- Kolaborasi Lintas Wilayah: Memperkuat jejaring antar organisasi keluarga daerah di bawah payung Buton Raya.
- Pembenahan Total Pekuburan: Mulai dari perawatan rutin, peningkatan infrastruktur, hingga pengadaan lahan baru untuk mengantisipasi kebutuhan 10 hingga 20 tahun mendatang.
Pendataan Massal: Langkah Revolusioner KKIB
Satu program yang paling dinantikan adalah Pendataan Keluarga Buton se-Sulselbar. Program ini bukan sekadar sensus biasa. Menurut Prof. Sumbangan, pendataan yang akurat adalah kunci agar tidak ada warga Buton yang tertinggal.
“Kami ingin basis data yang valid. Sehingga ketika ada warga yang sakit, membutuhkan beasiswa, atau bahkan bantuan hukum, KKIB bisa bergerak cepat dan tepat. Ini untuk memudahkan koordinasi bantuan dan pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.
Dr. Muliadi Mau, selaku Ketua Organising Committee Mubes yang juga menjabat Sekretaris Umum KKIB Sulselbar, membenarkan bahwa tata kelola organisasi akan beralih ke sistem digital.
Kesan dan Harapan
Mubes yang juga dirangkaikan dengan Silaturahmi Akbar ini ditutup dengan tradisi Pomema (makan bersama). Ketua terpilih mengajak seluruh elemen untuk bersatu, mengesampingkan perbedaan, dan fokus membangun kampung halaman meski berada di rantau.
“Selamat kepada Prof. Sumbangan Baja. Semoga di periode ini, suara warga Buton di Sulselbar semakin terdengar dan kontribusinya untuk pembangunan daerah asal semakin nyata,” pungkas salah satu perwakilan dari Wakatobi dalam forum tersebut. (*)






