
Ketika matahari tenggelam di ufuk barat Makassar dan jarum jam menunjuk tepat pukul 19.00 WITA, Jalan Sungai Cerekang mulai menggeliat. Di bawah pendar lampu jalan dan kerlip toko yang tutup, jejeran tenda emperan bertransformasi menjadi pusat denyut nadi kuliner malam Kota Daeng. Inilah Sarabba Sucer.
Aroma tajam jahe yang beradu hangat dengan gurihnya santan langsung menyapa indera penciuman. Sucer adalah rumah bagi belasan pedagang Sarabba yang setia menyajikan kehangatan di tengah sepoi angin malam.
Secara geografis, Jalan Sungai Cerekang terletak sangat strategis di pusat Kota Makassar, berjarak hanya selemparan batu dari kawasan perkantoran Karebosi, kawasan pertokoan Jalan Bulu Saraung dan Jl Bawakaraeng. Akses menuju lokasi ini sangat mudah dijangkau dari berbagai titik kota, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi daring.
Meski berada di kawasan pusat kota, daya tarik utama Sungai Cerekang justru terletak pada kesederhanaannya. Sepanjang siang hari, jalan ini berfungsi layaknya koridor pertokoan. Namun begitu malam tiba, deretan trotoar dan emperan toko bertransformasi menjadi warung publik yang inklusif.
Meja-meja kayu sederhana dan bangku plastik berjejer rapi di bawah naungan atap toko, menciptakan suasana merakyat yang hangat, di mana batasan sosial melebur di antara kebul asap Sarabba.

Racikan Tradisional Sarabba Sucer
Sarabba bukan sekadar minuman penghangat tubuh. Bagi masyarakat suku Bugis-Makassar, minuman berbahan dasar jahe, gula merah, dan santan ini adalah simbol keramahtamahan. Di atas meja, selalu hadir “sahabat karibnya”: pisang goreng, ubi goreng, dan bakkara (sukun goreng,-red) hangat lengkap dengan cocolan sambal.
Ada juga menu tambahan berupa telur ayam kampung setengah matang yang telah diberi garam dan merica secukupnya. Menu iini dipercaya ampuh untuk menambah stamina begadang.
Anti, salah satu penjual yang sudah cukup lama berjualan di trotoar Sungai Cerekang, merawat racikan itu dengan penuh ketelatenan.
“Dari dulu resepnya tidak pernah berubah, kualitas jahe dan santannya harus betul-betul segar. Pelanggan di Sucer itu kritis, kalau rasanya beda sedikit saja pasti mereka tahu,” ujar Anti.
Magnet Penikmat Malam dari Berbagai Lapisan
Memasuki tengah malam, Sucer justru semakin riuh. Ratusan pengunjung dari berbagai latar belakang—mulai dari pekerja kantor, mahasiswa, hingga wisatawan—duduk berbaur di bangku plastik emperan toko.
Maulana (35), seorang pelanggan setia yang malam itu tampak menikmati segelas sarabba telur bersama rekan-rekannya, mengungkapkan alasannya selalu kembali ke kawasan ini.
“Saya hampir tiap minggu ke sini. Selain bikin badan hangat dan segar setelah capek kerja, suasana Sucer ini merakyat sekali. Minum sarabba panas sambil makan bakkara garing di sini rasanya beda dibanding tempat lain,” tutur Maulana.
Geliat kehidupan di Sucer terus berlangsung hingga menjelang dini hari. Gelak tawa dan obrolan hangat membelah sunyinya malam, ditemani asap tipis yang membumbung dari cangkir-cangkir sarabba. Serta suara musik pengamen yang berkeliling.
Resep Rahasia Sarabba Khas Makassar
Bagi yang rindu kehangatan Sucer namun belum sempat berkunjung langsung, sajian tradisional ini dapat diracik sendiri di dapur rumah.
Bahan-bahan:
- Jahe merah/gajah: 200 gram (bakar sebentar lalu memarkan)
- Gula merah/aren: 150 gram (sisir halus)
- Santan sedang: 500 ml
- Air bersih: 1 liter
- Merica bubuk: secukupnya (opsional, untuk efek hangat ekstra)
- Garam: secukupnya
Cara Membuat:
Rebus air bersama jahe yang sudah dimemarkan dan gula merah hingga mendidih dan aroma jahe keluar kuat.
Tambahkan merica bubuk dan garam, aduk hingga seluruh gula larut sempurna.
Kecilkan api, lalu tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk perlahan agar santan tidak pecah.
Masak hingga mendidih dan sedikit mengental, lalu angkat dan saring.
Cara Penyajian (Sarabba Telur): Kocok 1 butir kuning telur ayam kampung di dalam gelas, lalu tuang Sarabba mendidih sambil terus diaduk cepat hingga tercampur rata (creamy).
Singgah ke Makassar tanpa melangkah ke Jalan Sungai Cerekang dan menyesap hangatnya Sarabba di Sucer ibarat melukis tanpa warna. Jika Anda sedang berada di kota ini, datanglah setelah pukul tujuh malam, duduklah di emperan Sucer, dan biarkan kehangatan Makassar menyapa Anda. (*)






