
La Nyalla Mahmud Mattalitti atau yang lebih populer dengan nama La Nyalla Mattalitti adalah sosok yang kontroversial. Rekam jejaknya bertabur berita yang tak semuanya positif. Fitnah pun sering kali ditujukan padanya. Mulai dari tudingan memelihara preman hingga prilaku korupsi.
Dia tak menampik banyaknya fitnah itu. Namun dia selalu tak menggubrisnya. Karena menurut dia yang terpenting adalah bagaimana diri kita di hadapan Allah SWT. Bukan citra di hadapan manusia. Dia mengaku tak masalah jika dianggap sebagai ahli neraka oleh manusia. Tidak masalah. Asal jangan di hadapan Allah SWT.
Fitnah-fitnah yang disematkan kepadanya akan terjawab dengan sendirinya dalam perjalanan waktu. Seperti tuduhan dugaan kasus korupsi yang didakwakan kepadanya ternyata tak terbukti dan dia divonis bebas oleh hakim pada 2016.
Begitu juga dengan tudingan sebagai pimpinan preman. Dia katakan dirinya tak pernah melakukan aksi-aksi premanisme. Tidak pernah memeras orang. Bahkan dalam sebuah video wawancara Program Blak-blakan @Detikcom dia menantang siapa saja untuk menunjukkan siapa korban premanisme yang dilakukannya.
Dia dikenal sebagai membina preman karena pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila
Jawa Timur. Organisasi ini banyak disalahartikan oleh masyarakat sebagai organisasi preman.
Menurutnya itu tak benar, karena di Pemuda Pancasila ada banyak karakter orang di dalamnya.
Di situ memang ada preman, ada juga profesor, ada politisi, ada olahragawan, ada pengusaha dan
banyak lagi macamnya. La Nyalla menganalogikan sebagai ‘kebun bintang’. Semua jenisnya ada di
dalam situ.
Menurutnya, keberadaannya sebagai Ketua Pemuda Pancasila waktu itu tak lain adalah untuk membina preman-preman itu menjadi manusia yang lebih baik. Bukan malah menjadi pemimpin preman.
Karena untuk mendidik para preman tak perlu berpakaian ustaz atau kiai. Tetapi dilakukan pendekatan secara persuasif.
Konon La Nyalla saat remaja dikenal sebagai sosok yang pemberani dan sering membuat onar. Sehingga orang tuanya mengirimkan dia untuk bersekolah di pesantren. Namun dia tak selesai.
Pendidikannya malah banyak ditamatkan di sekolah umum. Saat SD dia bersekolah di SD Bhinneka Bhakti, Surabaya. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Surabaya, SMA Negeri 3 Surabaya. Lalu kuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya.
La Nyalla memang lebih banyak menghabiskan waktunya di Surabaya. Ayahnya adalah seorang dosen Fakultas Hukum di Universitas Airlangga. Ayahnya bernama Mahmud Mattalitti, pernah menduduki posisi sebagai pembantu dekan di Fakultas Hukum Airlangga.
Mattalitti sendiri adalah nama kakeknya. Lengkapnya Andi Mattalitti. Seorang pengusaha di Surabaya yang cukup terkenal di masanya. Dia berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan.
La Nyalla sendiri lahir di Jakarta pada tanggal 10 Mei 1959. Dia hidup dalam keluarga yang berkecukupan.
Uniknya, kenangan mondok saat di pesantren muncul ketika dia sudah cukup dewasa. Ketika berumur 25 tahun dia malah mondok di pesantren kawasan Kompleks Makam Sunan Giri Gresik. Dia juga terkadang berjalan kaki dari satu masjid ke masjid lain sepanjang Kota Surabaya dan Kota Jakarta untuk beribadah. Dia membahasakannya sebagai upaya penyucian diri.
Sebelum menjadi seorang pengusaha, La Nyalla pernah bekerja sebagai buruh kasar. Dia pernah bekerja sebagai sopir angkot. Di situlah dia bertemu banyak preman yang kemudian diajak untuk tobat. Belakangan preman-preman ini banyak yang mengikutinya.
Awal mula dia masuk ke dunia bisnis yakni ketika membuat pameran di Surabaya. Dia melabeli pameran itu dengan nama Pameran Kreativitas Anak Muda Indonesia pada tahun 1989.
Tidak untung. Malah rugi karena minimnya pengunjung. Dia terpaksa harus menyicil setiap bukan utang sebesar Rp180 juta kepada PT Maspion yang menjadi sponsor utama pameran itu.
Meski pernah bangkrut karena pameran, tak membuat La Nyalla untuk mundur dari bisnis pameran itu. Dia kembali membuat pameran dengan tema yang berbeda. Dia pun kembali meminta sponsor dari PT Maspion. Namun kali ini jumlahnya jauh sangat kecil dibanding nilai sponsor pertama. Jumlahnya hanya Rp5 juta.
Ternyata dengan nilai sponsor yang kecil itu, dia bisa sukses menggelar pameran yang akhirnya menjadi cikal bakal Surabaya Expo yang setiap tahun di gelar hingga 2001.
La Nyalla juga aktif di berbagai organisasi. Selain di Pemuda Pancasila dia juga terlibat di Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Timur. Puncaknya ketika dia berhasil terpilih menjadi ketua Kadin Jatim.
Namanya mulai populer berkibar secara nasional ketika dia terjun di gelanggang olahraga sepak bola. Pada 201 dia terpilih sebagai Ketua PSSI Jawa Timur. Lalu di tahun berikutnya,menjadi Ketua Umum Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (PSSI-KPSI) yakni kubu tandingan PSSI.. Setelah PSSI dan KPSI menyatu pada 2013, La Nyalla didapuk sebagai Wakil Ketua Umum PSSI 2013-2016.
Kiprahnya di PSSI semakin baik. Dua tahun setelahnya dia dikukuhkan sebagai Ketua Umum PSSI melalui voting pada Kongres Luar Biasa PPSI. Dia meraih 94 suara mengalahkan Syarif Bastaman yang hanya dapat 14 suara.
Kongres luar biasa itu tak mendapat restu dari Menpora sehingga muncul konflik antara Pemerintah dan PSSI.
Di tengah konflik itu, nama La Nyalla terseret kasus dugaan korupsi di Pemerintah Privinsi Jatim saat dia masih menjadi pengurus Kadin Jatim. Dia sempat dinyatakan tersangka namun akhirnya hakim memberikan divonis bebas pada 2016.
Di panggung politik pun La Nyalla ketinggalan. Dia mengawali karier politiknya dengan menjadi Ketua DPW Partai Patriot. Setelahnya itu bergabung dengan Prabowo Subianto di Partai Gerindra. Dia menjadi Ketua DPD Gerindra Jatim.
Pada pilpres 2014-2019 dia dikenal sebagai loyalis Prabowo. Namun pada Pilpres 2019-2014 dia berbalik mendukung Jokowi yang pernah menjadi rival Parbowo.
Setelah keluar dari Partai Gerindra karena tak mendapat rekomendasi untuk menjadi calon Gubernur Jawa Timur, La Nyalla memilih untuk menempuh jalur perorangan. Dia enggan untuk ‘bermain’ di partai.
Pilihannya itu berhasil membawanya untuk duduk di kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI
periode 2019-2024 dengan perolehan suara sebanyak 2,2 juta. Di lembaga ini dia kembali
memperlihatkan kelihaiannya berpolitik dengan terpilih sebagai Ketua DPD RI periode 2019-2024.
Biodata
Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti
Tempat / Tanggal lahir : Jakarta, 10 Mei 1959
Riwayat Penmdidikan :
SD Bhinneka Bhakti, Surabaya (1965-1971)
SMP Negeri 1 Surabaya (1971-1974)
SMA Negeri 3 Surabaya (1974-1977)
Fakultas Teknik Sipil, Universitas Brawijaya (1977-1984)
Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2022-2024






