
MAKASSAR — Langkah agresif ditempuh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam memburu penyakit tuberkulosis (TBC). Melalui strategi jemput bola Active Case Finding (ACF) memanfaatkan teknologi portable X-Ray, Pemprov Sulsel berhasil menemukan sebanyak 14.463 kasus positif TBC hingga 19 Juli 2026.
Capaian tersebut merupakan bagian dari target penemuan 45.556 kasus TBC sepanjang tahun 2026, sekaligus wujud akselerasi Gerakan TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) demi menopang target Eliminasi TBC Nasional 2030.
Skrining Portable X-Ray: Inovasi Jemput Bola Sasar Kelompok Rentan
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr. Evi Mustikawati Arifin, menjelaskan bahwa penggunaan alat pencitraan medis portabel ini memangkas hambatan geografis dan jarak. Petugas medis tidak lagi menunggu pasien di puskesmas, melainkan langsung datang ke kantong-kantong populasi berisiko.
“Skrining difokuskan pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi tertular TBC agar kasus dapat ditemukan lebih awal dan segera ditangani,” terang dr. Evi, Rabu (22/7/2026).
Saat ini, layanan skrining masif telah bergulir di lima kabupaten/kota prioritas:
- Kota Makassar: Menyasar personel Satpol PP Pemprov Sulsel yang bermobilitas dan berinteraksi tinggi di lapangan.
- Kabupaten Pangkep, Gowa, Soppeng, & Kota Palopo: Diprioritaskan untuk kontak erat serta anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.
Alur Penanganan: Dari Rontgen hingga Tes Cepat Molekuler (TCM)
Untuk meminimalkan potensi kesalahan diagnosis, masyarakat yang terindikasi TBC berdasarkan hasil pemindaian portable X-Ray tidak langsung divonis, melainkan akan menjalani tahapan konfirmasi:
- Skrining Lapangan: Pemindaian paru-paru dengan portable X-Ray di lokasi sasaran.
- Diagnosis Konfirmasi: Warga yang terindikasi wajib mengikuti Tes Cepat Molekuler (TCM).
- Pengobatan Standar: Pasien terkonfirmasi positif langsung mendapatkan paket pengobatan gratis sesuai standar kesehatan nasional.
Benteng Ujung Tombak: 2.451 Desa/Kelurahan Siaga TBC
Strategi penanganan TBC di Sulsel tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga penguatan komunitas akar rumput. Hingga kini, tercatat sebanyak 2.451 Desa dan Kelurahan Siaga TBC telah dibentuk di seluruh penjuru wilayah.
Keberadaan desa siaga ini melibatkan kolaborasi kader kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan (faskes), dan pemerintah daerah setempat sebagai ujung tombak untuk mengedukasi warga, mendeteksi gejala awal, serta mendampingi pasien agar patuh berobat hingga tuntas.
Melalui integrasi teknologi portabel dan pengawasan berbasis masyarakat, Pemprov Sulsel optimistis dapat memutus rantai penularan TBC dan mendongkrak angka kesembuhan secara signifikan. (*)




