
Kota Makassar menyimpan jejak peradaban yang kaya di Pesisir Barat Sulawesi Selatan. Sebagai salah satu simpul perdagangan maritim terpenting di Asia Tenggara sejak era kolonial, nama “Makassar” mengandung makna filosofis yang mendalam serta sejarah panjang yang dipenuhi peristiwa penting.
Etimologi dan Jejak Naskah Kuno Makassar
Kata “Makassar” berasal dari akar kata Mangkasara (Mang: sifat; Kasara: jelas, terlihat, atau terang). Secara harfiah, Mangkasara berarti “bersifat terbuka” atau “menampakkan diri”. Etimologi ini mencerminkan karakter masyarakat Makassar yang lugas, jujur, dan berterus terang (Akkana Mangkasarak).
Secara tertulis, nama ini pertama kali tercatat dalam Pupuh 14/3 Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-14 Masehi. Pada era tersebut, Makassar diidentifikasi sebagai salah satu daerah jangkauan perdagangan nusantara di bawah pengaruh Majapahit.
Momen masuknya ajaran Islam ke Kerajaan Gowa-Tallo tersebut ditandai dengan istilah lokal Akkasaraki Nabiyya (“Nabi menampakkan diri”). Peristiwa sakral tersebut kian memperkuat penggunaan nama Makassar sebagai simbol era baru peradaban Islam di Sulawesi Selatan.
Dikutip dari makassakota.go.id, Awalnya, pusat aktivitas Makassar berada di muara Sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber dari Portugis menyebutkan, bandar Tallo itu awalnya berada di bawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene. Pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, bahkan menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekitarnya.
Akibat pendangkalan sungai Tallo, sehingga kota akhirnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.
Makassar, Lahir Dari Dua Kerajaan Kembar
Perkembangan Makassar menjadi pusat niaga tidak lepas dari persatuan dua kerajaan, Gowa dan Tallo, pada abad ke-16. Di bawah kepemimpinan Raja Gowa IX, Tumaparisi Kallonna, pusat pemerintahan dipindahkan ke pesisir benteng Somba Opu. Kebijakan ini mengubah Makassar dari kerajaan berbasis agraris menjadi imperium maritim dengan sistem pelabuhan bebas (free port).
Sistem tersebut menarik pedagang dari Eropa, Arab, Tiongkok, hingga India. Kapal-kapal internasional melintasi Selat Makassar membawa rempah-rempah seperti cengkeh dan pala dari Maluku. Kebijakan pintu terbuka ini menjadikan Makassar sebagai emporium global utama sebelum jatuhnya Somba Opu pasca-Perjanjian Bungaya tahun 1667.
Kisah Legenda Nama Makassar: Peristiwa Pantai Tallo 1605
Selain catatan sejarah, asal-usul nama Makassar lekat dengan tradisi lisan. Pada tahun 1605, Raja Tallo ke-VI (I Mallingkaang Daeng Mannyonri) mengalami peristiwa spiritual di Pantai Tallo. Beliau bertemu dengan ulama asal Minangkabau, Abdul Ma’mur Khatib Tunggal (Dato’ ri Bandang).
Momen masuknya Islam ke Kerajaan Gowa-Tallo tersebut ditandai dengan istilah Akkasaraki Nabiyya (“Nabi menampakkan diri”). Peristiwa tersebut memperkuat penggunaan nama Makassar sebagai simbol era baru berdirinya pusat peradaban Islam di Sulawesi Selatan.
Dinamika Geopolitik Kolonial dan Benteng Ujung Pandang
Pasca-Kekalahan Gowa dalam Perang Makassar (1666–1669), VOC di bawah Cornelis Speelman memaksa pembongkaran benteng-benteng pertahanan Gowa, kecuali Benteng Ujung Pandang. Benteng ini kemudian direbut, direnovasi dengan arsitektur gaya Eropa, dan dinamai Fort Rotterdam.
Penguasaan kolonial ini menggeser pusat tata ruang kota dari Somba Opu ke sekitar Benteng Rotterdam. Momen tersebut sekaligus menandai awal periode pengawasan ketat aktivitas niaga maritim di kawasan timur nusantara oleh Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC).
​Transformasi Identitas Modern dan Karakteristik Kota
​Lanskap Kota Makassar pasca-kemerdekaan terus mengalami dinamika sosiopolitik. Pada era Orde Baru tahun 1971, nama kota ini sempat diubah menjadi “Kotamadya Ujung Pandang” dengan alasan penataan administrasi dan perwakilan suku. Namun, gelombang aspirasi masyarakat yang ingin mempertahankan akar sejarah dan identitas budayanya mendorong perubahan kembali.
​Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 86 Tahun 1999, nama Makassar resmi dikembalikan. Saat ini, Makassar berdiri kokoh sebagai metropolis terbesar di Indonesia Timur yang memadukan warisan kebaharian, pusat kuliner, serta simpul logistik nasional.
Perkembangan Status Nama Kota
| Era / Tahun | Nama Resmi / Peristiwa | Keterangan Sejarah |
|---|---|---|
| Abad ke-16 | Benteng Ujung Pandang | Didirikan pada masa Raja Gowa IX (Tumaparisi Kallonna) sebagai pusat niaga. |
| 1971 – 1999 | Kotamadya Ujung Pandang | Pemerintah Indonesia mengubah nama kota menjadi Ujung Pandang. |
| 13 Oktober 1999 | Kota Makassar | Nama Makassar dikembalikan melalui PP No. 86 Tahun 1999 atas aspirasi masyarakat. |
Kini, Makassar terus berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia tanpa kehilangan identitas historisnya sebagai kota niaga yang terbuka. (*)







4 thoughts on “Sejarah Kota Makassar: Berawal Dari “Penampakan Nabi””