
Nama jalan di Kota Makassar, bukan sekadar berfungsi sebagai penda belaka. Di balik plang nama yang terpasang di setiap persimpangan Kota Makassar, terukir memori kolektif tentang jejak langkah perjuangan, pemikiran besar, dan pengorbanan para tokoh yang membentuk fondasi bangsa.
Menelusuri penamaan jalan-jalan utama di kota anging mammiri ini sama halnya dengan membuka lembaran-lembaran atlas sejarah, di mana setiap jengkal jalurnya menghubungkan masa lalu yang penuh gelora dengan denyut kehidupan masyarakat modern hari ini.
Penetapan nama-nama tokoh pada ruas jalan di Makassar menghimpun perpaduan harmonis antara para pahlawan asal Sulawesi Selatan dengan para tokoh pergerakan nasional dari berbagai penjuru Nusantara. Figur lokal legendaris seperti Raja Gowa Sultan Hasanuddin, Datu Luwu Andi Djemma, hingga para pejuang muda Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) berdampingan secara terhormat dengan Proklamator Ir. Soekarno, Panglima Besar Jenderal Sudirman, hingga pelopor pendidikan Ki Hajar Dewantara.
Kehadiran nama para raja, panglima perang, dan budayawan lokal seperti Amanna Gappa dan Kajao La Liddong mencerminkan betapa tingginya peradaban bahari serta hukum tata negara yang telah tumbuh di tanah Bugis-Makassar jauh sebelum era kolonial. Begitu pula penyematan nama ulama penyebar Islam—seperti Syekh Yusuf dan Tiga Datuk dari Minangkabau—serta figur pejuang wanita heroik seperti Emmy Saelan, menjadi bukti konkret keterlibatan lintas latar belakang, gender, dan spritual dalam mengawal moral serta kedaulatan rakyat.
Bagi generasi penerus, deretan nama jalan seperti Jl. A. P. Pettarani, Jl. Wolter Mongisidi, hingga Jl. H.M. Daeng Patompo bukan sekadar titik acuan lokasi navigasi atau tujuan transportasi daring. Nama-nama tersebut adalah monumen hidup yang senantiasa memanggil ingatan publik akan nilai-nilai integritas, keberanian, patriotisme, dan jiwa kepemimpinan bersahaja. Setiap kali warga melintas di atas jalur-jalur tersebut, ada pesan tersirat untuk melanjutkan nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Siapa sajakah tokoh-tokoh itu berikut profil singkatnya:
PAHLAWAN NASIONAL & TOKOH PERJUANGAN DARI SULAWESI SELATAN
Sultan Hasanuddin (Jl. Sultan Hasanuddin)
I Mallombasi Daeng Mattawang (1631–1670) adalah Raja Gowa ke-16 yang memimpin perlawanan terhadap monopoli VOC di kawasan timur Nusantara. Keberanian dan keteguhannya dalam Perang Makassar membuatnya dijuluki De Haav van de Oosten (Ayam Jantan dari Timur) oleh Belanda.
Andi Pangerang Petta Rani (Jl. A. P. Pettarani)
Gubernur Sulawesi pertama (1956–1660) pasca-kemerdekaan dan putra Raja Bone Andi Mappanyukki. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat jujur, bersahaja, tegas, dan menolak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.
Andi Mappanyukki (Jl. Andi Mappanyukki)
Raja Bone ke-32 yang menolak tegas pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) oleh Belanda. Beliau menggalang persatuan para raja lokal untuk mempertahankan kedaulatan NKRI hingga diasingkan oleh Belanda ke Rantepao.
Robert Wolter Mongisidi (Jl. Wolter Mongisidi)
Pendiri Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Pejuang muda pemberani ini memimpin gerilya di Makassar hingga akhirnya dieksekusi mati oleh regu tembak Belanda pada tahun 1949 dengan kalimat terkenal: “Setia hingga akhir dalam keyakinan”.
Emmy Saelan (Jl. Emmy Saelan)
Tokoh laskar wanita dan perawat medis yang bertempur bersama LAPRIS. Beliau gugur secara heroik dalam Pertempuran Kassi-Kassi (1947) setelah meledakkan granat di tengah kepungan tentara Belanda demi melindungi pasukan gerilya lainnya.
Andi Djemma (Jl. Andi Djemma)
Datu (Raja) Luwu yang pertama kali menyatakan ikrar kesetiaan kerajaannya untuk bergabung dengan NKRI pasca-Proklamasi 1945. Beliau memimpin Perlawanan Rakyat Luwu melawan tentara NICA/Belanda.
Letjen Hertasning (Jl. Hertasning)
Tokoh militer, pejuang kemerdekaan, dan diplomat senior Indonesia. Beliau pernah mengemban amanah strategis sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Singapura.
Andi Mattalatta (Jl. Andi Mattalatta)
Tokoh militer, pejuang kemerdekaan, dan bapak olahragawan Sulawesi Selatan. Beliau memimpin operasi pendaratan pasukan lintas laut dari Jawa ke Sulawesi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Andi Muis (Jl. Andi Muis)
Pejuang kemerdekaan, wartawan senior, dan akademisi penegak kebebasan pers asal Sulawesi Selatan. Beliau aktif memobilisasi semangat perjuangan masyarakat melalui pemikiran dan karya jurnalistiknya.
Arief Rate (Jl. Arief Rate)
Pejuang kemerdekaan dari Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Beliau aktif mengagendakan serangan taktis terhadap markas pertahanan Belanda di wilayah Makassar dan sekitarnya.
Bau Massepe (Jl. Bau Massepe)
Pangeran dari Kerajaan Suppa/Sidenreng yang memimpin perlawanan bersenjata melawan tentara Belanda di wilayah Parepare dan sekitarnya. Beliau gugur sebagai martir setelah ditangkap dan dieksekusi oleh pasukan Westerling.
Lanto Daeng Pasewang (Jl. Lanto Daeng Pasewang)
Gubernur Sulawesi pasca-kemerdekaan yang berperan penting dalam merajut konsolidasi pemerintahan lokal serta memulihkan kondisi keamanan kawasan pasca-perang kemerdekaan.
Muchtar Luthfi (Jl. Muchtar Luthfi)
Ulama, pejuang kemerdekaan, dan tokoh pergerakan Islam asal Sulawesi Selatan. Beliau gigih membina kesadaran politik dan nasionalisme rakyat untuk menolak segala bentuk penjajahan kolonial.
Padjonga Daeng Ngalle (Jl. Padjonga Daeng Ngalle)
Raja/Karaeng Polongbangkeng (Takalar) yang memprakarsai pembentukan Laskar Gerilya Luar Kota untuk meladeni perlawanan terhadap tentara NICA/Belanda di wilayah selatan Sulawesi Selatan.
Pong Tiku (Jl. Pong Tiku)
Pahlawan Nasional dari Tanah Toraja yang memimpin perang gerilya bertahun-tahun menentang benteng pertahanan kolonial Belanda di pegunungan Toraja (1905–1907).
Ranggong Daeng Romo (Jl. Ranggong Daeng Romo)
Pahlawan Nasional asal Takalar yang memimpin pasukan Gerakan Muda Bajeng (GMB) dan wadah perjuangan LAPRIS dalam melancarkan perlawanan bergerilya melawan sekutu dan NICA.
Sultan Daeng Radja (Jl. Sultan Daeng Radja)
Tokoh pergerakan nasional dan Pahlawan Nasional asal Bulukumba. Beliau menggalang dukungan penuh rakyat dan tokoh adat Bulukumba untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Abu Bakar Lambogo (Jl. A. B. Lambogo)
Kapten pejuang kemerdekaan dari Enrekang yang memimpin Batalyon I TRIPS. Beliau gugur secara tragis dipenggal oleh pasukan Belanda di Salu Wajo pada tahun 1947 karena menolak menyerahkan kedaulatan wilayahnya.
TOKOH SEJARAH, KERAJAAN & BUDAWAN NUSANTARA/LOKAL
Syekh Yusuf (Jl. Syekh Yusuf)
Ulama besar, ulama sufi, dan Pahlawan Nasional asal Gowa (1626–1699). Beliau berjuang melawan Belanda di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa hingga akhirnya diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka dan Afrika Selatan.
Amanna Gappa (Jl. Amanna Gappa)
Tokoh maritim Kerajaan Gowa/Mangkasara abad ke-17 yang menyusun Ade Allopi-Loping Bicaranna Pabbalue, kodifikasi hukum pelayaran dan perdagangan laut terpadu pertama di Nusantara.
Sultan Alauddin (Jl. Sultan Alauddin)
Raja Gowa ke-14 yang merupakan raja Gowa pertama yang resmi memeluk agama Islam (1605) dan menjadikan Kerajaan Gowa sebagai pusat penyebaran Islam terkemuka di Sulawesi Selatan.
Sultan Abdullah (Jl. Sultan Abdullah)
Raja Tallo ke-7 (Karaeng Matoaya) yang merupakan Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo. Bersama Sultan Alauddin, beliau memelopori penerapan syariat Islam serta memodernisasi armada laut dan benteng pertahanan Kerajaan Gowa.
I La Galigo (Jl. La Galigo)
Tokoh utama dalam epic mitologi Bugis Sureq Galigo, naskah sastra terpanjang di dunia yang diakui UNESCO sebagai warisan ingatan dunia (Memory of the World).
Sawerigading (Jl. Sawerigading)
Tokoh legendaris dan pahlawan utama dalam epik mitologi Sureq Galigo, dikisahkan sebagai ayah dari I La Galigo yang mengarungi samudera hingga ke berbagai penjuru Nusantara.
Kajao La Liddong (Jl. Kajao La Liddong)
Penasihat utama Kerajaan Bone pada abad ke-16. Beliau adalah pemikir hukum, negarawan, dan filsuf politik ternama yang merumuskan prinsip-prinsip ketatanegaraan serta keadilan adat Bugis.
Karaeng Karunrung (Jl. Karaeng Karunrung)
Perdana Menteri (Yudisial/Mangkubumi) Kerajaan Gowa abad ke-17. Beliau dikenal sebagai ahli strategi perang yang sangat gigih dan anti-VOC pendamping Sultan Hasanuddin.
Bonto Marannu (Jl. Bonto Marannu)
Panglima armada laut Kerajaan Gowa yang sangat disegani saat mendampingi perjuangan Sultan Hasanuddin menghadapi persekutuan VOC dan Arung Palakka.
Arupala (Jl. Arupala)
Nama panggilan populer dari Arung Palakka, Raja Bone ke-15 yang membebaskan rakyatnya dari dominasi Kerajaan Gowa pada abad ke-17 dan mengubah peta politik Sulawesi Selatan.
Datu Museng & Maipa Deapati (Jl. Datu Museng)
Tokoh cerita rakyat dan legenda romantisme Makassar yang melambangkan kesetiaan cinta, keberanian, dan pengorbanan jiwa membela harga diri tanah air dari pencerobohan penjajah.
Abdullah Daeng Sirua (Abdesir) (Jl. Abdullah Daeng Sirua)
Tokoh pejuang lokal, ulama, dan pimpinan masyarakat Kampung Tidung yang aktif membina mental spiritual serta pendidikan berbasis keagamaan di Makassar.
Ali Malaka (Jl. Ali Malaka)
Tokoh saudagar dan pejuang masyarakat lokal Makassar asal keturunan Arab yang banyak memberikan kontribusi sosial-ekonomi serta menyokong logistik pejuang kemerdekaan di Makassar.
Bonto Daeng Ngirate (Jl. Bonto Daeng Ngirate)
Bangsawan dan pimpinan lokal daerah Kerajaan Gowa yang aktif menentang dominasi politik kolonial Belanda di wilayah Makassar dan sekitarnya.
Bonto Langkasa (Jl. Bonto Langkasa)
Panglima perang Kerajaan Gowa yang memimpin berbagai ekspedisi pertahanan wilayah laut dalam mengamankan kedaulatan kerajaan dari aneksasi pasukan asing.
Botolempangan (Jl. Botolempangan)
Gelar bangsawan/wilayah historis Kerajaan Gowa yang merepresentasikan dewan pemangku adat (Bate Salapang) penentu arah kebijakan strategis kerajaan.
Daeng Tata (Jl. Daeng Tata)
Tokoh masyarakat, pejuang lokal, dan budayawan Makassar yang konsisten menjaga kelestarian adat istiadat, kebudayaan daerah, serta memajukan kesejahteraan masyarakat Parang Tambung.
I Daeng Ribura’ne (Jl. I Daeng Ribura’ne)
Pahlawan wanita lokal asal Makassar yang memimpin aksi perlawanan sosial rakyat menolak dominasi monopoli dan pajak kolonial Belanda.
Karuwisi (Jl. Karuwisi)
Nama tokoh pimpinan pemukiman kuno di Makassar yang menjadi pusat perlawanan rakyat setempat menghadapi penetrasi awal tentara kolonial.
Kumala (Jl. Kumala)
Tokoh pejuang perempuan dan penggerak barisan wanita lokal dalam membantu perbekalan logistik serta perawatan medis pejuang gerilya Makassar.
Saleh Daeng Tompo (Jl. Saleh Daeng Tompo)
Tokoh pejuang kemerdekaan dan pimpinan masyarakat lokal yang aktif menggalang barisan perjuangan pemuda di wilayah pesisir Makassar.
Yusuf Daeng Ngawing (Jl. Yusuf Daeng Ngawing)
Tokoh pergerakan pemuda dan pimpinan kemasyarakatan lokal yang berkontribusi aktif dalam menata administrasi serta keamanan masyarakat Makassar pasca-kemerdekaan.
Ramang (Jl. Ramang)
Andi Ramang (1924–1987) adalah legenda sepak bola Indonesia dan PSM Makassar. Penyerang legendaris yang julukannya Macan Asia ini pernah menggetarkan gawang Uni Soviet pada Olimpiade Melbourne 1956.
TOKOH SYIAR ISLAM (DATUK TIGA)
Datuk Ri Bandang (Jl. Datuk Ri Bandang)
Abdul Makmur (Khatib Tunggal), ulama asal Minangkabau yang menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan dan berhasil mengislamkan Raja Gowa dan Tallo pada awal abad ke-17.
Datuk Ri Patimang (Jl. Datuk Ri Patimang)
Sulaeman (Khatib Sulung), ulama asal Minangkabau yang menyebarkan syiar Islam di wilayah Kerajaan Luwu dan berhasil mengislamkan Datu Luwu, Payung Luwu Pati Passo-So.
Datuk Ri Tiro (Jl. Datuk Ri Tiro)
Abdul Jawad (Khatib Bungsu), ulama asal Minangkabau yang menyebarkan syiar Islam di wilayah selatan Sulawesi Selatan (Bulukumba, Tiro, dan sekitarnya).
PAHLAWAN PERGERAKAN & NATIONAL REVOLUTION
Ir. Soekarno (Jl. Soekarno)
Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang merumuskan Pancasila serta memimpin bangsa Indonesia keluar dari belenggu penjajahan.
Jenderal Sudirman (Jl. Jenderal Sudirman)
Panglima Besar TNI pertama yang memimpin perang gerilya secara menakjubkan dari atas tandu dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pangeran Diponegoro (Jl. Diponegoro)
Pahlawan Nasional pemimpin Perang Jawa (1825–1830) melawan Hindia Belanda. Setelah ditangkap secara licik oleh Belanda, beliau diasingkan ke Manado dan menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat di Benteng Rotterdam, Makassar.
Pattimura (Jl. Pattimura)
Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy), Pahlawan Nasional asal Maluku yang memimpin perlawanan rakyat Saparua menentang kekejaman monopoli VOC/Belanda pada tahun 1817.
Raden Ajeng Kartini (Jl. Kartini)
Pahlawan Nasional pelopor kebangkitan perempuan Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan hak, emancipasi, dan akses pendidikan bagi kaum wanita.
Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (Jl. H.O.S. Cokroaminoto)
Pimpinan Sarekat Islam (SI) dan guru bangsa yang mendidik tokoh-tokoh besar lintas ideologi Indonesia. Beliau dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota oleh Belanda.
Haji Agus Salim (Jl. Haji Agus Salim)
Diplomat ulung, kiai, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Menguasai banyak bahasa asing dan menjadi salah satu perancang diplomasi pengakuan kedaulatan RI di tingkat internasional.
Ki Hajar Dewantara (Jl. Ki Hajar Dewantara)
Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan pendiri Perguruan Taman Siswa. Ajaran filosofis utamanya yang paling mendunia adalah Tut Wuri Handayani.
KH Ahmad Dahlan (Jl. K.H. Ahmad Dahlan)
Pahlawan Nasional dan pendiri organisasi kemasyarakatan Islam Muhammadiyah pada tahun 1912 yang berfokus pada pembaharuan pemikiran Islam, pendidikan, dan layanan sosial.
KH Wahid Hasyim (Jl. K.H. Wahid Hasyim)
Tokoh pergerakan Islam, pimpinan Nahdlatul Ulama (NU), anggota BPUPKI/PPKI, serta Menteri Agama RI pertama yang merupakan ayah dari Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dr. Sam Ratulangi (Jl. Dr. Sam Ratulangi)
Doktor matematika pertama Indonesia asal Sulawesi Utara yang diangkat menjadi Gubernur Pertama Provinsi Sulawesi. Beliau terkenal dengan filsafat kemanusiaannya: Si Tou Timou Tumou Tou.
Dr. Sutomo (Jl. Dr. Sutomo)
Tokoh pendiri Budi Utomo (1908), organisasi pergerakan modern pertama di Indonesia yang menandai dimulainya era Kebangkitan Nasional.
Dr. J. Leimena (Jl. Dr. Leimena)
Pahlawan Nasional asal Maluku, menteri kesehatan berdedikasi tinggi, dan penggagas sistem Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di seluruh Nusantara.
Muhammad Yamin (Jl. Yamin)
Sastrawan, pelopor Sumpah Pemuda 1928, pencetus gagasan dasar negara, dan sejarawan yang memformulasikan wawasan kebangsaan Indonesia.
Wahidin Sudirohusodo (Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo)
Dokter penggagas organisasi Budi Utomo yang gigih memperjuangkan dana pendidikan (Studiebeurs) bagi pemuda bumiputra.
Chairil Anwar (Jl. Chairil Anwar)
Penyair legendaris Angkatan ’45 yang merevolusi dunia sastra Indonesia melalui puisi-puisi perjuangannya yang sangat ekspresif, seperti “Aku” dan “Karawang-Bekasi”.
WR Supratman (Jl. W.R. Supratman)
Komponis Indonesia yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengumandangkannya pertama kali dengan biola pada Sumpah Pemuda 1928.
TOKOH MILITER & PAHLAWAN REVOLUSI
Jenderal Gatot Subroto (Jl. Gatot Subroto)
Tokoh militer legendaris Indonesia dan Wakil Kepala Staf TNI AD yang sangat berperan dalam konsolidasi tentara nasional pasca-kemerdekaan.
Urip Sumohardjo (Jl. Urip Sumohardjo)
General Mayor dan Kepala Staf Umum TKR pertama yang bersama Jenderal Sudirman meletakkan fondasi organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pierre Andreas Tendean (Jl. Pierre Tendean)
Pahlawan Revolusi berdarah Minahasa-Prancis yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965 saat melindungi mengorbankan dirinya demi mengawal Jenderal A.H. Nasution.
Yos Sudarso (Jl. Yos Sudarso)
Laksamana Muda TNI yang gugur sebagai pahlawan di atas KRI Macan Tutul dalam Pertempuran Laut Aru (1962) demi merebut kembali Irian Barat dari Belanda.
Arief Rahman Hakim (Jl. Arief Rahman Hakim)
Mahasiswa Universitas Indonesia yang gugur sebagai Pahlawan Ampera saat mendemonstrasikan tuntutan TRITURA pada tahun 1966.
TOKOH PEMERINTAHAN LOKAL
Haji Muhammad Daeng Patompo (Jl. H.M. Daeng Patompo)
Wali Kota Makassar (Ujung Pandang) periode 1965–1978. Beliau adalah wali kota visioner yang memodernisasi Kota Makassar, membangun infrastruktur kawasan perdagangan, serta meletakkan dasar tata kota modern Makassar. (*)






